Laptop Hardware Gadget

Pasar Penjualan Laptop Meningkat Dikarenakan Kerja dan Belajar dari Rumah

Pasar Penjualan Laptop Meningkat Dikarenakan Kerja dan Belajar dari Rumah

Pasar Penjualan Laptop Meningkat Dikarenakan Kerja dan Belajar dari Rumah - Pandemi Covid-19 saat ini membuat seluruh penduduk dunia melakukan physical distancing atau menjaga jarak antar sesama untuk mengurangi resiko penularan Covid-19 atau Virus Corona. Untuk itu hampir seluruh penduduk dunia baik para pekerja maupun pelajar untuk menetap dirumah.

Para pekerja kebanyakan memilih kerja di rumah atau Work from Home dan pelajar sementara harus belajar dari rumah dengan memanfaatkan jaringan internet dan melakukan segala kegiatan melalui ponsel ataupun laptop.

Dari perubahan gaya hidup seperti ini yang sebabkan oleh virus corona, ternyata berdampak pada pasar penjualan laptop yang semakin meningkat serta perangkat pendukung lainnya termasuk juga jaringa internet.

Baca juga: 7 Aplikasi Yang Dapat Digunakan Untuk Rapat Atau Meeting Secara Online

Disamping itu, beberapa pabrikan laptop dan komponennya diprediksi mengalami penurunan pangsa pasar akibat dari lesunya pasar global sebagai dampak pandemi virus corona. Serta diikuti oleh menurunnya pasar gadget lainnya seperti perangkat smartphone ataupun ponsel.

Namun ternyata, permintaan retailer meningkat berkat aturan kerja dari rumah. Di Jepang, pabrikan laptop Dyanbook mengaku banyak mendapat permintaan laptop dari penduduk setempat. Sehingga penjualan laptop mereka meningkat semenjak pandemi virus corona ini.

Hal yang sama juga dialami oleh kompetitornya, NEC yang menawarkan laptop yang ramah tele-working, seperti menyematkan speaker yang lebih bertenaga pada laptopnya. Serta vendor asal Korea Selatan, Samsung, juga melaporkan kenaikan 20 persen penjualan untuk ekspor material semikonduktornya.

Di Autralia, salah satu retailer elektronik JB Hifi melaporkan, selain ada peningkatan permintaan untuk sejumlah perangkat pendukung kerja dan belajar dari rumah seperti smartphone dan laptop, penjualan perabot rumah juga meningkat.

Selain penjualan laptop yang meningkat, lalu lintas internet diberbagai negara juga meningkat dan semakin padat.

Banyaknya orang yang bertatap muka secara virtual juga membuat lalu lintas internet semakin padat. Alhasil, kapasitas pusat data yang dibutuhkan akan lebih banyak untuk menampung lonjakan trafik jaringan internet. 

Park Sung-soon, salah seorang analis dari Capr Investment & Securities menjelaskan "Lebih banyak orang yang bekerja dan belajar dari rumah selama pandemi, ada peningkatan permintaan layanan internet, artinya pusat data membutuhkan pipa lebih besar untuk menampung trafik,".

Cina adalah negara yang paling awal melakukan karantina akibat wabah corona, serta lebih dulu mengalami peningkatan permintaan chip server.

Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa yang ada di Cina, seperti Alibaba, Tencent, dan Baidu, bergegas dan merespons kebijakan pemerintah setempat kala itu yang melakukan karantina wilayah.

Yih Khai Wong seorang analis dari Canalys mengatakan "Perusahaan cloud membuka platform mereka, membuka pintu bagi pengguna lama dan baru untuk menggunakan sumber daya mereka lebih banyak secara gratis untuk mendukung operasi ini,".

Menurut Wong, apa yang telah dilakukan oleh perusahaan teknologi dan telekomunikasi Cina menjadi preseden baik bagi negara-negara yang saat ini sedang mengalami karantina wilayah. Tingginya permintaan akan infrastruktur cloud turut mendorong kenaikan harga chip.

Harga chip DRAM dilaporkan naik 6 persen sejak tanggal 20 Februari lalu, menurut data dari situs pelacak harga DRAMeXchange. Selain dikarenakan permintaan yang tinggi, kenaikan harga juga disebabkan oleh tersendatnya pasokan karena pandemi corona ini.

Survei yang dilakukan oleh asosiasi kelompok dagang industri elektronik, IPC International, ada sekitar 69 persen produsen elektronik, diprediksi kemungkinan keterlambatan pemasokan akan memakan waktu rata-rata hingga tiga minggu.

Setengah dari responden berharap bisnisnya kembali normal sekitar bulan Juli mendatang. Tiga perempat responden lainnya memperkirakan bisnisnya kembali normal bulan Oktober mendatang.